Pemanfaatan Virtual Reality Untuk Pendidikan Modern !

6 min read

 Pemanfaatan Virtual Reality Untuk Pendidikan Modern ! 


 awdev.eu.org — Zaman Yang Kian Maju Membawa Perubahan Besar Terutama dalam Perkembangan Teknologi Virtual Reality.


 "Inspirasimu untuk Berinovasi dan Bertumbuh bersama Geturnet.com"




Masa depan kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif



Ilustrasi (stambol)

Kemajuan teknologi selalu membawa perubahan besar di setiap zaman. Dengan adanya perubahan zaman, maka komponen-komponen yang menyertainya juga turut berevolusi. Salah satu komponen tersebut adalah pendidikan.


Bagi kalian yang menjalani masa sekolah pada tahun 2015 keatas, tentunya kalian sudah tidak asing dengan banyaknya perangkat komputer yang berjejeran di ruangan IT. Namun, pemandangan seperti ini adalah sesuatu yang asing bagi orang-orang yang mengenyam bangku pendidikan mereka pada tahun 90’an.


Seiring berjalannya waktu, berbagai macam penerapan dan pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan diperkenalkan.


Beberapa contoh yang sudah diterapkan di Indonesia sendiri meliputi presentasi menggunakan software PowerPoint melalui Video Projector, ujian sekolah berbasis komputer, hingga yang baru-baru ini diterapkan, pembelajaran daring melalui aplikasi teleconference seperti Zoom dan Google Meet.


Penggunaan berbagai macam teknologi ini pun bukan tanpa alasan. Selain berfungsi untuk memperkenalkan teknologi baru kepada para pelajar, hadirnya inovasi dan teknologi-teknologi ini juga mempermudah kegiatan belajar mengajar.


Manfaatnya pun dapat kita rasakan sekarang. Ketika pandemi COVID-19 menyerang Negara-Negara di Dunia, dunia pendidikan dapat terselamatkan dan dapat terus berjalan dengan adanya penerapan teknologi teleconference.


Dengan macam-macam teknologi yang sudah diperkenalkan selama satu dekade ke belakang, sebuah pertanyaan pun terlintas. Apakah perkembangan dunia pendidikan sudah mencapai batasnya? Atau masih ada teknologi-teknologi baru yang berpotensi dapat mendatangkan berbagai macam manfaat bagi dunia pendidikan?


Hari ini, kita akan membahas sebuah teknologi yang sudah tidak asing di telinga kita, Virtual Reality, beserta potensinya untuk dunia pendidikan.


Apa itu Virtual Reality?


Headset Virtual Reality (copperberg)

Virtual reality (Realitas virtual atau realitas maya), atau yang lebih sering disingkat sebagai VR, adalah sebuah pengalaman simulasi yang menawarkan sensasi yang mirip dengan dunia nyata.


Saat ini, sistem VR standar rata-rata menggunakan sebuah perangkat headset VR atau lingkungan multi-proyeksi untuk menghasilkan visual, audio, dan sensasi realistis lainnya yang mensimulasikan kehadiran fisik pengguna di sebuah lingkungan virtual.


Seseorang yang menggunakan perangkat VR tersebut dapat melihat dunia buatan, bergerak di dalamnya, dan berinteraksi dengan fitur dan item virtual yang berada di dalamnya. Seolah pengguna benar-benar berada di dunia lain.


Efeknya biasanya dibuat oleh sebuah headset VR yang dipasang di kepala pengguna. Headset ini terdiri dari sebuah layar kecil di depan mata, tetapi juga dapat dibuat melalui ruangan yang dirancang khusus dengan beberapa layar besar. VR sendiri biasanya menggabungkan umpan balik berbentuk audio dan visual, tetapi juga dapat memungkinkan umpan balik jenis lain seperti umpan balik sensorik dan tekanan melalui teknologi haptic.


Potensinya di Dunia Pendidikan


Guido Kovalkys (EdTech Digest)

Berbagai macam perusahaan edtech (teknologi pendidikan), berlomba-lomba dalam mengembangkan teknologi VR untuk menghadirkan pengalaman nyata seperti ini ke dalam kelas, dengan menyoroti kemampuan teknologi untuk menginspirasi dan menarik perhatian anak muda.


“Anak-anak suka terlibat dengan pelajaran berbasis VR,” ucap Guido Kovalkys, kepala eksekutif dan salah satu pendiri perusahaan edtech Nearpod yang berbasis di Amerika Serikat, saat dirinya diwawancarai oleh CNN, “Satu menit pertama, mereka belajar tentang sejarah Romawi, dan beberapa menit selanjutnya, mereka dibawa ke Roma kuno dan menjelajahi Colosseum.”


Menurut angka Nearpod, lebih dari 6 juta siswa di Amerika Serikat dan sekitarnya telah mengalami pelajaran berbasis VR, seperti kunjungan lapangan virtual, setelah mulai menawarkan layanan dua tahun lalu.


“Kami melihat korelasi langsung antara penggunaan VR dan peningkatan keterlibatan siswa,” kata Kovalkys. “Keterlibatan tambahan ini meningkatkan hasil belajar.”


Masih di wawancara yang sama, Jeremy Bailenson, seorang profesor komunikasi di Universitas Stanford dan direktur pendiri Lab Interaksi Manusia Virtual Stanford, telah mempelajari VR sejak akhir 1990-an.


Dia percaya bahwa VR harus melengkapi pembelajaran di kelas, bukan menggantikannya. “Ini tentang menggunakan VR untuk membingkai pekerjaan lain yang dilakukan di luar kegiatan belajar mengajar reguler,” katanya.


“Belajar mengkonjugasikan kata kerja, misalnya, itu tidak memanfaatkan potensi terbesar VR. Hal itu berfungsi dengan baik di papan tulis. Melakukan sesuatu yang mengharuskan Anda untuk menonton dan memperhatikan, tetapi tidak bergerak, itu tidak benar-benar membutuhkan penggunaan VR.”


Dalam buku terbarunya, “Experience on Demand,” Bailenson menjelaskan bahwa VR memiliki potensi untuk mendemokratisasikan pendidikan dengan memberikan kesempatan perjalanan dan pendidikan kepada mereka yang tidak dapat mengaksesnya.


“Anda dapat mengambil pengalaman dunia nyata dan membuatnya kembali dalam VR,” katanya.


Kemudian, menurut penelitian Bailenson, menggunakan VR juga dapat berdampak psikologis pada anak-anak:


“Dalam beberapa kasus, anak-anak yang pernah melakukan kegiatan seperti berenang dengan paus di lingkungan VR, mengembangkan ingatan palsu bahwa mereka benar-benar mengunjungi SeaWorld di kehidupan nyata.”


Meninjau dari hal di atas, jelas masih banyak penelitian yang perlu dilakukan sebelum VR diizinkan di ruang kelas sama sekali, apalagi dilihat sebagai pengganti yang layak.


Contoh Pemanfaatan VR di Dunia Pendidikan

Seperti yang sudah penulis terangkan tadi, ada begitu banyak perusahaan edtech yang ingin menerapkan teknologi VR ke dalam dunia pendidikan.


Tentu, hal tersebut bukan hanya sekadar omong kosong belaka. Karena sudah ada beberapa perusahaan yang merealisasikan inovasi dan teknologi mereka ke dunia nyata.


Menjelajahi Planet Mars Secara Virtual



Wisata Virtual ke Planet Mars Menggunakan Bus (Lockheed Martin)

Para insinyur berinovasi untuk merombak sebuah bus supaya dapat menjadi kendaraan wisata yang dapat menjelajahi Planet Mars. Idenya adalah, mereka mengganti jendela bus dengan layar 4K transparan dan kaca film yang dapat diganti. Dengan cara ini, mereka menghilangkan kebutuhan akan headset dan kacamata VR, serta menciptakan pengalaman grup yang imersif.


Untuk memastikan bahwa pengalaman itu terasa senyata mungkin, mereka memetakan jalan-jalan Washington DC ke permukaan virtual Mars, sehingga bus bisa pergi ke manapun di kota Washington. Ditambah dengan sistem suara surround yang memainkan suara angin Mars di dalam bus, seluruh perjalanan menjadi terasa nyata, dan bisa dibilang merupakan pengalaman yang paling mendekati dengan kunjungan lapangan nyata ke Planet Mars.


Anak perusahaan pendidikan Lockheed Martin, Generation Beyond, adalah otak di balik proyek ini. Sebagai informasi tambahan, situs web mereka adalah harta karun bagi para pendidik yang ingin membuat siswa bersemangat dalam menjelajahi ruang angkasa dan sains.


Misalnya, mereka dapat mengunduh rencana pelajaran, kurikulum, video soal, aktivitas keluarga, alat pengalaman penerbangan ruang angkasa interaktif, dan banyak materi bermanfaat lainnya yang dapat diunduh secara gratis.


Pengalaman Museum dengan Pemandu Terbaik di Dunia



Teknologi Virtual Reality Besutan Boulevard (Boulevard)

Jika VR memungkinkan kita untuk sampai ke tempat-tempat seperti Mars, maka mengunjungi museum berbasis Bumi tentunya adalah hal yang mudah. Misalnya, teknologi ini dapat membantu pendidik untuk meningkatkan keterlibatan dalam kelas seni dan sejarah dengan meminta siswa mengunjungi beberapa museum terbaik dunia tanpa meninggalkan kelas.


Sebuah perusahaan bernama Boulevard adalah salah satu pelopor dalam hal ini. Berkat teknologi VR mereka, pengguna dapat mengunjungi museum terkenal, berinteraksi dengan barang-barang yang ada di dalamnya, dan mempelajari lebih lanjut tentang karya seni.


Selain itu, siswa juga dipandu oleh kurator, penulis, dan seniman terkenal. Hasilnya, guru dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan berkontribusi pada rasa penemuan ilmiah mereka berkat fungsionalitas interaktif.


Bereksperimen di Laboratorium Virtual



Tampilan Laboratorium Virtual (Labster VR)

Kemudian, ada Labster VR, salah satu perusahaan edtech di Kopenhagen, yang mengembangkan lab sains berbasis VR bagi siswa. Sekarang, ia sedang mengembangkan rangkaian produk VR baru dalam kemitraan dengan Google.


Memiliki laboratorium virtual untuk memastikan lingkungan yang aman dan interaktif bagi siswa untuk mempelajari mata pelajaran STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) tentu saja merupakan alat yang hebat untuk dimiliki. Dengan perusahaan seperti Labster VR, hal ini menjadi mungkin. Alat pendidikan imersif dari Labster VR sendiri sudah digunakan oleh 150 universitas di berbagai Dunia.


Labster telah mengembangkan lebih dari 70 simulasi berbasis web untuk pelajar, dan sedang bekerja untuk memigrasi simulasinya ke VR, serta membuat yang baru, untuk memberikan pengalaman yang lebih kaya bagi mereka.


Perusahaan ini bertujuan untuk melibatkan siswa melalui elemen mendongeng, naratif, dan permainan interaktif. Misalnya, dalam Simulasi Latihan Fisiologi, siswa dapat berpartisipasi dalam uji klinis untuk menyelidiki “efek fisiologis akut dan kronis dari pelatihan interval intensitas tinggi (SIT) pada gaya hidup yang tidak banyak bergerak.”


“Dengan terlibat dalam lingkungan lab virtual seperti ini, siswa dapat melatih keterampilan mereka dengan melakukan eksperimen dan tes, semuanya dalam lingkungan yang bebas risiko,” kata Martha Ross, peneliti pendidikan di Supreme Disertations. “Ini membuat mereka lebih mudah untuk belajar dari kesalahan, dan dengan demikian mereka dapat mengembangkan keterampilan laboratorium lebih cepat.”


Kemudian, Maarood Fakhri, pemilik produk VR di Labster, juga menambahkan, “VR menawarkan sensasi fisik seperti berada di lab, yang memberikan kepercayaan diri siswa saat mereka maju ke lingkungan lab yang sebenarnya,” kata Fakhri, “Siswa dapat menggunakannya sendiri, dengan kecepatan mereka sendiri, mengulangi hal-hal, membuat kesalahan, mencoba eksperimen beberapa kali.”


Meneliti dan Mempelajari Otak Manusia



Tampilan Gameplay inMind2 (PC Gamer)

VR sendiri adalah alat yang sangat baik untuk mempelajari suatu proses yang tidak dapat diakses. Misalnya, kimia manusia, salah satu bidang yang paling menarik untuk dipelajari.


Salah satu contoh yang menunjukkan betapa menyenangkan dan efektifnya VR untuk mempelajari manusia adalah inMind2, sebuah game VR yang dirancang untuk membantu siswa mempelajari kimia di balik emosi manusia.


Setiap pelajar yang berpartisipasi dalam permainan ini menjadi penyelidik aktif tentang bagaimana John, karakter dalam game ini, tumbuh dari seorang remaja menjadi dewasa, dan bagaimana kimia manusia membentuk diri John.


Pengembang game ini memberi para pelajar sejumlah kemungkinan jalur kehidupan dan takdir. Untuk menentukan jalur mana yang akhirnya dicapai John, mereka perlu mengendalikan emosinya dalam situasi dan skenario yang dirancang khusus. Setiap keputusan yang dibuat berpengaruh dalam membentuk masa depan John sebagai orang dewasa.


Hari ketika teknologi VR dianggap sebagai sesuatu yang diciptakan semata-mata untuk game dan hiburan telah usai. Dengan menyediakan elemen interaktivitas yang luar biasa itu, VR telah menjadi teknologi inovatif yang sah untuk meningkatkan hasil belajar siswa.


Apabila kalian suka dengan artikel ini dan sedang mencari artikel dengan tema sejenis, maka Awdev adalah jawabannya.


Terus follow Kami untuk artikel seputar inovasi dan teknologi menarik lainnya.


Post a Comment